Kamis, 06 Juni 2013

Tafsir al Qur an Surat Al anfaal ayat 1 – 4 Sifat-Sifat Mukmin


Tafsir al Qur an Surat Al anfaal ayat 1 – 4 

Barangkali sering kita mendengar bacaan dari imam masjid, yakni bacaan surat al Anfaal ayat 1 sampai 4 ini dibacakan sebagai bacaan surat pada rakaat pertama atau rakaat kedua shalat fardhu. Sejatinya tentu banyak hikmah yang terkandung dalam surat ini. Mari kita mentadabburinya lewat kitab tafsir Ibnu katsir berikut ini :

“Mereka bertanya kepadamu tentang ghanimah. Katakanlah, ‘Ghanimah itu kepunyaan Allah dan rasul. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara kamu serta taatlah kepada Allah dan rasul-Nya jika kamu merupakan orang-orang yang beriman.” (1) “Sesunguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah keimanan mereka, dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal, (2). Orang-orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka, (3). Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat pada sisi Tuhannya, ampunan, dan rezeki yang mulia, (4).

“Mereka bertanya kepadamu tentang ghanimah. Katakanlah, ‘Ghanimah itu kepunyaan Allah dan rasul. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara kamu serta taatlah kepada Allah dan rasul-Nya jika kamu merupakan orang-orang yang beriman.” (1)
Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, al-anfaal berarti ghanimah (harta rampasan perang). Diriwayatkan dari Said bin Jubair, dia berkata : Aku bertanya kepada Ibnu Abbas ra. Ihwal surat al-anfaal. Maka dia berkata, “Ayat itu diturunkan dalam Perang Badar.’ Adapun riwayat yang dikaitkan dengan Ibnu Abbas, maka riwayat ini diceritakan pula oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata, “Al-Anfaal berarti rampasan perang yang khusus bagi Rasulullah Saw. Tiada seorang pun yang berhak mendapatkan bagian sedikit pun.” Ibnu Abbas menafsirkan dengan sanad yang shahih bahwa an-nafl ialah pemberian yang diberikan oleh pemimpin kepada individu-individu tertentu sebagai tambahan atas bagian pokok. Pengertian an-nafl inilah yang segera dipahami oleh mayotitas fuqaha. Wallahu a’lam.

Ibnu Mas’ud dan Masruq berkata : Tiada kelebihan dalam peristiwa perang yang hebat. Sesunggguhnya tambahan itu hanya terdapat pada saat sebelum bertemu musuh. Sehubungan dengan ayat, “Mereka bertanya kepadamu tentang ghanimah”, Abdullah bin Mubarak dan yang lainnya meriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah, dia menafsirkan, “Mereka bertanya kepadamu ihwal binatang kendaraan, budak sahaya laki-laki, budak perempuan , atau benda lainyya yang  masuk ketengah-tengah muslimin dari kaum musyrikin dalam situasi yang bukan perang. Itulah yang disebut an-nafl yaitu tambahan bagi Nabi Saw. Beliau dapat meperlakukannya menurut kemauan dia.” Penafsiran ini memastikan bahwa dia menafsirkan al-anfal dengan al-fai’, yaitu barang yang diambil dari kaum kafir bukan melalui perang. Ibnu Jarir berkata, “Para sahabat yang lain mengatakan, al-anfaal ialah tambahan bagi tawanan. Pemberian itu diberikan oleh pemimpin kepada pasukan khusus sebagai tambahan atas pembagian pokok yang tidak diberikan kepada tentara lain. Penafsiran ini dipilih oleh ibnu Jarir.

Penafsiran tadi didukung oleh keterangan yang berhubungan dengan sebab turunnya ayat itu, keterangan itu diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Sa’ad bin malik, berkata (354), “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, pada hari ini Allah telah membalas dendamku kepada kaum musyrikin. Maka berikanlah pedang ini kepadaku. ‘Maka beliau bersabda, ‘Pedang ini bukan untukmu dan bukan pula untukku.’ Kemudian aku pun meletakkannya, lalu pulang dan berkata kepada diri sendiri, ‘Mudah-mudahan pedang ini tidak diberikan kepada orang yang tidak merasakan cobaan seperti yang aku rasakan.’ Tiba-tiba seseorang memanggil dari belakangku. Aku berkata, ‘Apakah Allah telah menurunkan ayat sehubungan dengan Aku?’ Nabi bersabda,
‘Tadi kamu meminta pedang itu kepadaku. Ia bukanlah milikku. Sesunggunya Dia telah memberikannya kepadaku. Sekarang, ambillah pedang itu untukmu. ‘Ternyata Allah menurunkan ayat ini, “Mereka bertanya kepadamu ihwal ghanimah. Katakanlah, ‘Ghanimah itu kepunyaan Allah dan Rasul.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i)
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, tirmidzi dan an-Nasa’I dari berbagai jalur yang berpusat pada Abi bakar bin Iyasy. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan dan shahih.
Firman Allah Ta’ala, “Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara kamu.” 

Yakni, bertakwalah kepada Allah dalam segala persoalanmu dan perbaikilah persoalan yang terjadi diantara kamu serta janganlah kamu saling menzalimi, bermusuhan, dan berselisih. Petunjuk dan pengetahuan yang diberikan Allah kepadamu adalah lebih baik daripada apa yang kamu perselisihkan karenanya. “Serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya”, yakni, terhadap pembagiannya diantara kamu menurut cara yang dikehendaki Allah. Sesungguhnya beliau membagikan ghanimah menurut perintah Allah, yaitu berdasarkan keadilan dan keinsafan, “Jika kamu merupakan orang-orang yang beriman”.

“Sesunguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah keimanan mereka, dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal, (2). Orang-orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka, (3). Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat pada sisi Tuhannya, ampunan, dan rezeki yang mulia, (4).

Sehubungan dengan firman Allah Swt, “Sesunguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka”, Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas menafsirkan ayat itu dengan, Tidak ada sedikitpun keteringatan kepada Allah di dalam hati orang munafik ketika mengerjakan berbagai kewajiban. Mereka tidak beriman sedikitpun terhadap ayat-ayat Allah, tidak bertawakkal kepada Nya, tidak mendirikan shalat pada saat tidak diketahui orang lain, dan tidak membayar zakat atas hartanya. “Sesunguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka”, yakni kaget dan takut lalu mereka mendirikan kewajiban dari-Nya, mendirikan segala perintah, dan meninggalkan segala larangan-Nya. Inilah sifat mukmin sejati.

Firman Allah Ta’ala, “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah keimanan mereka,” yakni pembenaran mereka. Al Bukhari dan imam lainnya menjadikan ayat ini dan ayat lain yang sejenis sebagai dalil yang menunjukkan kepada bertambahnya keimanan dan kelebihannya di dalam hati, seperti firman Allah Ta’ala, “Adapun orang-orang yang beriman, maka bertambahlah keimanan mereka sedang mereka merasa bersuka cita.” Inilah mazhab mayoritas imam, bahkan dikatakan hal tersebut merupakan ijma.

Firman allah Ta’ala, “dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal,” yakni mereka tidak mengharapkan selain Dia, tidak menuju kecuali kepada Dia, tidak berlindung kecuali kapada sisi-Nya, tidak meminta kebutuhan kecuali kepada-Nya, dan tidak mencintai kecuali kepada-Nya. Mereka mengetahui bahwa apa yang Dia kehendaki akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi; bahwa Dialah seorang yang mengelola kerajaan, tiada sekutu bagi-Nya, tiada yang membantah ketetapan-Nya, dan Dia Maha cepat perhitungan-Nya. Oleh karena itu, Said bin Zubair mengatakan, “Tawakal kepada Allah merupakan himpunan keimanan.”

Firman Allah Ta’ala, “Orang-orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka,”. Mendirikan shalat ialah memelihara shalat dalam aspek waktu, wudhu, kesempurnaan rukunnya seperti ruku dan sujud serta pembacaan ayat al-Quran berikut tuma’ninah dalam pengerjaan rukun-rukun itu, tasyahud, dan membaca shalawat kepada Nabi Saw. Menginfakkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah meliputi pengeluaran zakat dan pemberian hak-hak hamba lainnya baik pemberian wajib maupun sunat. Pemberian ini dimaksudkan untuk memberitahukan bahwa harta ini hanyalah pinjaman dan titipan pada manusia yang nyaris terpisah.
Firman Allah Ta’ala, “Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” Amr bin Murah berkata, “Sesungguhnya al-Quran itu diturunkan dalam bahasa Arab.” Penggalan ini seperti ungkapan, “Si fulan merupakan sayyid sejati, sedangkan khalayak disebut sadat; si Fulan merupakan pedagang sejati, sedangkan khalayah disebut tujar, dan si fulan merupakan penyair sejati, sedangkan khalayak disebut syu’ara.”

Firman Allah Ta’ala, “Mereka akan memperoleh beberapa derajat pada sisi Tuhannya, ampunan, dan rezeki yang mulia,” yakni akan memperoleh sejumlah kedudukan, maqom, dan derajat di surga, “dan ampunan”, yakni Allah akan mengampuni aneka keburukan mereka dan menerima syukur mereka. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dikatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda,
‘Para penghuni tempat tertinggi benar-benar dapat dilihat oleh orang yang lebih rendah tempatnya daripada mereka seperti halnya kamu melihat bintang yang melintas di salah satu ufuk langit. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, itu adalah tempat para Nabi yang tidak dapat diperoleh oleh selain mereka’. Beliau bersabda, ‘Bukanlah demikian, namun demi Yang jiwaku dalam genggaman-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan pada rasul.’ (HR Bukhari dan Muslim).
Demikian, semoga kembali kepada kita dengan hikmah dan pelajaran.

Sumber : Kitab Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 Gema Insani Press

Selasa, 04 Juni 2013

Kisah Isra’ Mi’raj dalam Siroh Nabawiyah dan Kitab Tafsir


Kisah Isra’ Mi’raj dalam Siroh Nabawiyah dan Kitab Tafsir

Dalam Siroh Nabawiyah Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi yang banyak meringkas siroh Ibnu Hisyam yang menjadi landasan shiroh nabawiyah ulama’ karena memuat hadits shohih dan atsar shohabi yang shohih, dijelaskan bahwa Rasulllah Saw di Isra’kan dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu ke sidratul muntaha menuju kedekatan yang dikehendaki Allah Swt.  Suatu perjalanan ke langit, menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt, bertemu dengan (ruh) para nabi. Allah swt berfirman dalam alquran :

“Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari apa yang dilihatnya dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. AnNajm ayat 17-18)

            Isra’ Mi’raj adalah jamuan kemuliaan dari Allah Swt, penghibur hati dan pengganti dari apa yang dialami Rasulullah Saw ketika berada di Thaif berupa penghinaan, penolakan dan pengusiran. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Ibnu Syihab az-Zuhri bahwa Isra’ terjadi pada tahun sebelum tahun hijriyah. Terjadi perbedaan pendapat mengenai bulan terjadinya peristiwa ini. Pendapat yang terkenal, Isra’ terjadi pada malam ke-27 bulan Rajab. Hal yang disepakati adalah bahwa peristiwa isra mi’raj ini terjadi setelah kepergian Nabi Muhammad Saw ke Thaif. 

Sebelum ke Thaif, banyak musibah yang membuat hati Rasulullah Saw sedih yakni wafatnya Abu Thalib paman yang sekaligus pelindung beliau dari gangguan kaum kafir Quraisy, serta wafatnya istri tercinta Khadijah ra pada tahun ke 10 dari kenabian. 

Sedangkan dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katisr menjelaskan mengenai suroh Al Isra’ ayat 1 yakni :
            “Mahasuci Zat Yang telah memperjalankan hambaNya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkati sekitarnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian ayat kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” 

Allah mengagungkan zat-Nya sendiri dan mementingkan urusan-Nya karena kekuasaannya atas apa yang tidak dapat dilakukan seorang pun selain Dia. Tidak ada Tuhan selain Dia dan tidak ada Rabb kecuali Dia”Yang telah memperjalankan hamba-Nya” Muhammad Saw “pada malam hari dari Masjidil Haram,” yaitu masjid di Mekah, “ke Masjidil Aqsha” di Baitul Maqdis yang menjadi sumber para nabi sejak Ibrahim a.s. Oleh karena itu, mereka berkumpul di sana untuk menyambut Nabi saw. Beliau mengimami mereka di tempat tinggal mereka. Hal ini menunjukkan bahwa beliau merupakan imam besar dan pemimpin yang terkemuka. Semoga shalawat dan salam dari Allah dilimpahkan kepadanya dan kepada mereka semua.

Firman Allah Ta’ala, “Yang telah Kami berkati sekitarnya,” dalam hal tanam-tanaman dan buah-buahan “agar Kami memperlihatkan kepadanya,” yakni kepada Muhammad Saw, “sebagian ayat kami” yang besar, seperti firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya dia telah melihat sebagian ayat Tuhannya yang besar.” Kami akan menceritakan sebagian ayat ini yang dimudahkan Allah sebagaimana yang terdapat dalam hadits-hadits Nabi Saw.

Firman Allah Ta’ala,”Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” yakni Maha Mendengar ucapan-ucapan hamba-Nya baik yang mukmin maupun yang kafir dan membenarkan maupun yang mendustakan, Maha Melihat terhadap mereka, lalu Dia memberikan kepada masing-masing sesuatu yang berhak mereka terima di dunia dan di akhirat.

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda,
            Jibril membawakan untukku seekor Buraq, yaitu sejenis binatang yang berwarna putih. Binatang itu lebih panjang dari keledai dan lebih pendek dari pada baghal. Ia dapat melangkah sejauh mata memandang. Aku menungganginya hingga aku tiba di Baitul Maqdis. Lalu aku menambatkannya pada tambatan yang biasa digunakan oleh para Nabi. Kemudian aku masuk Masjid dan shalat di dalamnya dua rakaat. Kemudian aku keluar. Tiba-tiba Jibril menemuiku sambil membawa wadah berisi khamar dan wadah yang berisi susu. Aku memilih susu. Jibril a.s berkata, “Engkau memilih yang benar”. Lalu aku dibawa naik ke langit. Jibril meminta dibukakan pintu. Jibril ditanya, ‘Siapa Anda?’ Jibril menjawab,’Aku Jibril.’ Jibril ditanya, Dengan siapa Anda?’ Jibril menjawab, “Dengan Muhammad.’ Jibril ditanya, “Apakah dia sudah diutus?’ Jibril menjawab, ”Dia telah diutus”. Lalu pintupun dibukakan untuk kami. Ternyata aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril meminta dibukakan pintu. Jibril ditanya, ‘Siapa Anda?’ Jibril menjawab,’Aku Jibril.’ Jibril ditanya, Dengan siapa Anda?’ Jibril menjawab, “Dengan Muhammad.’ Jibril ditanya, “Apakah dia sudah diutus?’ Jibril menjawab,”Dia telah diutus”. Lalu pintupun dibukakan untuk kami. Ternyata aku bertemu dengan Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria a.s. Keduanya menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril meminta dibukakan pintu. Jibril ditanya, ‘Siapa Anda?’ Jibril menjawab,’Aku Jibril.’ Jibril ditanya, Dengan siapa Anda?’ Jibril menjawab, “Dengan Muhammad.’ Jibril ditanya, “Apakah dia sudah diutus?’ Jibril menjawab,”Dia telah diutus”. Lalu pintupun dibukakan untuk kami. Ternyata aku bertemu dengan Yusuf a.s. Dia diberi Allah separo ketampanan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa  naik ke langit ke empat. Jibril ditanya, ‘Siapa Anda?’ Jibril menjawab, ’Aku Jibril.’ Jibril ditanya, Dengan siapa Anda?’ Jibril menjawab, “Dengan Muhammad.’ Jibril ditanya, “Apakah dia sudah diutus?’ Jibril menjawab,”Dia telah diutus”. Lalu pintupun dibukakan untuk kami. Ternyata aku bertemu dengan Idris. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan Kami telah menaikkannya ke tempat yang tinggi. ‘Kemudian aku dibawa ke langit ke lima. Jibril ditanya lagi, ‘Siapa Anda?’ Jibril menjawab,’Aku Jibril.’ Jibril ditanya, Dengan siapa Anda?’ Jibril menjawab, “Dengan Muhammad.’ Jibril ditanya, “Apakah dia sudah diutus?’ Jibril menjawab,”Dia telah diutus”. Lalu pintupun dibukakan untuk kami.Ternyata aku bertemu dengan Harun a.s. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa ke langit keenam. Jibril ditanya, ‘Siapa Anda?’ Jibril menjawab,’Aku Jibril.’ Jibril ditanya, Dengan siapa Anda?’ Jibril menjawab, “Dengan Muhammad.’ Jibril ditanya, “Apakah dia sudah diutus?’ Jibril menjawab,”Dia telah diutus”. Lalu pintupun dibukakan untuk kami. Ternyata aku bertemu dengan Musa a.s. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa ke langit ke tujuh. Jibril ditanya, ‘Siapa Anda?’ Jibril menjawab,’Aku Jibril.’ Jibril ditanya, Dengan siapa Anda?’ Jibril menjawab, “Dengan Muhammad.’ Jibril ditanya, “Apakah dia sudah diutus?’ Jibril menjawab,”Dia telah diutus”. Lalu pintupun dibukakan untuk kami. Ternyata aku bertemu dengan Ibrahim a.s. yang tengah bersandar ke Baitul Ma’mur dimana 70.000 (tujuh puluh ribu) malaikat masuk ke dalamnya setiap hari dan mereka tidak pernah kembali lagi. Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Di sana terdapat pepohonan sebesar telinga gajah dan buahnya sebesar kendi. Setiap kali ia tertutup dengan kehendak Allah, ia berubah sehingga tidak ada satupun makhluk Allah yang dapat mengungkapkan keindahannya. Lalu Allah mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan sholat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa a.s. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab ‘Shalat 50 kali sehari semalam.’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Aku pun telah menguji dan mencoba kepada Bani Israil.’ Maka aku pun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, ‘Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali.’ Lalu aku kembali kepada Musa a.s seraya berkata, ‘Tuhanku telah menghapus lima kali shalat. ‘Musa berkata, ‘Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan. ‘Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa a.s hingga Dia berfirman, ’Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi lima kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan limapuluh kali shalat. Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan, dan jika ia melakukannya, maka baginya sepuluh kebaikan. Barangsiapa yang berniat melakukan keburukan, namun dia tidak jadi melakukannya, maka tidak dituliskan apa pun baginya. Jika dia melakukannya juga, maka baginya satu keburukan.’ ‘Aku pun turun hingga bertemu lagi lagi dengan Musa a.s dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepadaNya.” (HR Muslim)

Dalam kitab tafsirnya Fi Zhilalil Quran (Di Bawah Naungan al Quran) Sayyid Qutb menjelaskan bahwa kata “Isra” artinya berjalan di waktu malam. Pada hakikatnya, penyebutan kata ini sudah cukup membawa arti yang dikandungnya, dan tidak perlu lagi menyebutkan kata waktu itu. Akan tetapi secara tekstual, dalam ayat ini dinyatakan waktu malam, ‘Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam”, sebagai ilustrasi (sebuah metode yang biasa dipakai oleh Alquran), untuk menyorot suasana teduhnya malam dan kesejukan udaranya. Sehingga menyentuh hati yang sedang menyimak dan mengikuti secara saksama gerak perjalanan peristiwa Isra nan lembut ini. Pada bagaian lain Sayyid Qutb menjelaskan peristiwa Isra’ Mi’raj ini yakni dalam tafsiran surat an-Najm ayat 13-18. 

            “Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu pada waktu yang lain, yaitu di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar.” (an-Najm : 13-18)

            Peristiwa ini terjadi pada malam Isra Mikraj, demikianlah menurut riwayat yang shahih. Jibril mendekati Nabi Saw, sedang dia tampil dalam sosok aslinya, yaitu di Sidratil Muntaha. Sidrah, seperti dimaklumi adalah nama sebuah pohon. Lalu istilah sidratil muntaha digunakan karena tempat itulah puncak jangkauan (muntaha) Surga Ma’wa yang berada di dekatnya. Atau ia dinamai demikian karena menjadi akhir (muntaha) dari perjalanan mikraj. Atau karena ia menjadi tempat terakhir dari kebersamaan Nabi Saw dengan Jbril a.s, karena disanalah Jibril berhenti, sedang Muhammad Saw terus naik keperangkat lain  yang terdekat dengan Arsy Tuhannya. 

Wallohu A’lam bish-showab

Diolah dari berbagai sumber : Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Sayyid Qutb, dan Siroh Nabawiyah Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi.

Senin, 03 Juni 2013

Tafsir Surat An Naas (Manusia)


Tafsir Surat An Naas (Manusia)


1. Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

2. Raja manusia

3. Sembahan manusia

4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

6. dari (golongan) jin dan manusia.

Dalam surat An Naas Allah Swt menyebut tiga sifat Allah. Ar Rabb, Al Malik, Ilah. Sedangkan pada surat Al Falaq Allah hanya menyebut satu sifatnya. Menurut para ahli tafsir marabahaya yang diterangkan dalam surat Al Falaq hanyalah bahaya yang berhubungan dengan dunia (dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki). Sedangkan marabahaya yang disebutkan dalam surat An Nass adalah bahaya yang berhubungan dengan agama ( Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, dari (golongan) jin dan manusia.).  

4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

1)      Syetan menyesatkan manusia dengan godaan yang tersembunyi. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa saytan itu berada dalam pembuluh darah manusia.
Cara setan menggoda manusia :
·         Was was
Was-was adalah sesuatu bisikan yang membuat kita berpaling dari kebaikan. Imam nawawi mengatakan : barang siapa yang tidak jadi berbuat kebaikan karena takur riya maka ia sudah riya.
·         Lupa
Q.S Alkahfi ayat 63 :
Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."
·         Angan-angan kosong  (tamanni)
Setan juga menyesatkan manusia dengan angan-angan kosong yang tidak mungkin terjadi.
Q.S An Nisa ayat 120 :
Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.
·         Tazyyn (Menjadikan sesuatu yang buruk dianggap benar)
Q.S Al Hijr ayat 39
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,
·         Janji Palsu (wa’dun)
Q.S Ibrahim ayat 22 :
 Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ”Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.
·         Tipu Daya
Q.S An Nisa’ 76 :
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.
·         Hambatan
Q.S Al Anfal 36 :
Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,
·         ’Adaawah (memunculkan permusuhan)

2)      Menakut-nakuti (Takwif)
Cara kedua yang digunakan setan untuk menggoda manusia adalah dengan menakut-nakuti. Setan menakut-nakuti manusia, takut untuk berbuat baik, takut untuk mencegah kemungkaran, takut miskin, takut hidup menderita.
QS. Ali Imran 175 :
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.

Abu dzar bertanya pada sahabat yang lain : Apakah kamu pernah berlindung dari setan manusia? Lalu sahabat bertanya apakah ada setan manusia ? Abu dzar menjawab dengan membaca Q.S Al An’am ayat 112 :
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)[499]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Penyebab utama manusia berpaling dari Allah adalah karena berpaling
dari ajaran Allah (Al Qur’an) dan Zikr kepada Allah :
Q.S Zukhruf ayat 36 :
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Q.S Al  Mujadilah ayat 19 :
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.

Diolah dari berbagai sumber : Kajian Tafsir LPI Yogyakarta Ust. Fathhurrahman Kamal, Lc, MA