Kamis, 06 Juni 2013

Tafsir al Qur an Surat Al anfaal ayat 1 – 4 Sifat-Sifat Mukmin


Tafsir al Qur an Surat Al anfaal ayat 1 – 4 

Barangkali sering kita mendengar bacaan dari imam masjid, yakni bacaan surat al Anfaal ayat 1 sampai 4 ini dibacakan sebagai bacaan surat pada rakaat pertama atau rakaat kedua shalat fardhu. Sejatinya tentu banyak hikmah yang terkandung dalam surat ini. Mari kita mentadabburinya lewat kitab tafsir Ibnu katsir berikut ini :

“Mereka bertanya kepadamu tentang ghanimah. Katakanlah, ‘Ghanimah itu kepunyaan Allah dan rasul. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara kamu serta taatlah kepada Allah dan rasul-Nya jika kamu merupakan orang-orang yang beriman.” (1) “Sesunguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah keimanan mereka, dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal, (2). Orang-orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka, (3). Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat pada sisi Tuhannya, ampunan, dan rezeki yang mulia, (4).

“Mereka bertanya kepadamu tentang ghanimah. Katakanlah, ‘Ghanimah itu kepunyaan Allah dan rasul. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara kamu serta taatlah kepada Allah dan rasul-Nya jika kamu merupakan orang-orang yang beriman.” (1)
Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, al-anfaal berarti ghanimah (harta rampasan perang). Diriwayatkan dari Said bin Jubair, dia berkata : Aku bertanya kepada Ibnu Abbas ra. Ihwal surat al-anfaal. Maka dia berkata, “Ayat itu diturunkan dalam Perang Badar.’ Adapun riwayat yang dikaitkan dengan Ibnu Abbas, maka riwayat ini diceritakan pula oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata, “Al-Anfaal berarti rampasan perang yang khusus bagi Rasulullah Saw. Tiada seorang pun yang berhak mendapatkan bagian sedikit pun.” Ibnu Abbas menafsirkan dengan sanad yang shahih bahwa an-nafl ialah pemberian yang diberikan oleh pemimpin kepada individu-individu tertentu sebagai tambahan atas bagian pokok. Pengertian an-nafl inilah yang segera dipahami oleh mayotitas fuqaha. Wallahu a’lam.

Ibnu Mas’ud dan Masruq berkata : Tiada kelebihan dalam peristiwa perang yang hebat. Sesunggguhnya tambahan itu hanya terdapat pada saat sebelum bertemu musuh. Sehubungan dengan ayat, “Mereka bertanya kepadamu tentang ghanimah”, Abdullah bin Mubarak dan yang lainnya meriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah, dia menafsirkan, “Mereka bertanya kepadamu ihwal binatang kendaraan, budak sahaya laki-laki, budak perempuan , atau benda lainyya yang  masuk ketengah-tengah muslimin dari kaum musyrikin dalam situasi yang bukan perang. Itulah yang disebut an-nafl yaitu tambahan bagi Nabi Saw. Beliau dapat meperlakukannya menurut kemauan dia.” Penafsiran ini memastikan bahwa dia menafsirkan al-anfal dengan al-fai’, yaitu barang yang diambil dari kaum kafir bukan melalui perang. Ibnu Jarir berkata, “Para sahabat yang lain mengatakan, al-anfaal ialah tambahan bagi tawanan. Pemberian itu diberikan oleh pemimpin kepada pasukan khusus sebagai tambahan atas pembagian pokok yang tidak diberikan kepada tentara lain. Penafsiran ini dipilih oleh ibnu Jarir.

Penafsiran tadi didukung oleh keterangan yang berhubungan dengan sebab turunnya ayat itu, keterangan itu diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Sa’ad bin malik, berkata (354), “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, pada hari ini Allah telah membalas dendamku kepada kaum musyrikin. Maka berikanlah pedang ini kepadaku. ‘Maka beliau bersabda, ‘Pedang ini bukan untukmu dan bukan pula untukku.’ Kemudian aku pun meletakkannya, lalu pulang dan berkata kepada diri sendiri, ‘Mudah-mudahan pedang ini tidak diberikan kepada orang yang tidak merasakan cobaan seperti yang aku rasakan.’ Tiba-tiba seseorang memanggil dari belakangku. Aku berkata, ‘Apakah Allah telah menurunkan ayat sehubungan dengan Aku?’ Nabi bersabda,
‘Tadi kamu meminta pedang itu kepadaku. Ia bukanlah milikku. Sesunggunya Dia telah memberikannya kepadaku. Sekarang, ambillah pedang itu untukmu. ‘Ternyata Allah menurunkan ayat ini, “Mereka bertanya kepadamu ihwal ghanimah. Katakanlah, ‘Ghanimah itu kepunyaan Allah dan Rasul.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i)
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, tirmidzi dan an-Nasa’I dari berbagai jalur yang berpusat pada Abi bakar bin Iyasy. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan dan shahih.
Firman Allah Ta’ala, “Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara kamu.” 

Yakni, bertakwalah kepada Allah dalam segala persoalanmu dan perbaikilah persoalan yang terjadi diantara kamu serta janganlah kamu saling menzalimi, bermusuhan, dan berselisih. Petunjuk dan pengetahuan yang diberikan Allah kepadamu adalah lebih baik daripada apa yang kamu perselisihkan karenanya. “Serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya”, yakni, terhadap pembagiannya diantara kamu menurut cara yang dikehendaki Allah. Sesungguhnya beliau membagikan ghanimah menurut perintah Allah, yaitu berdasarkan keadilan dan keinsafan, “Jika kamu merupakan orang-orang yang beriman”.

“Sesunguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah keimanan mereka, dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal, (2). Orang-orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka, (3). Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat pada sisi Tuhannya, ampunan, dan rezeki yang mulia, (4).

Sehubungan dengan firman Allah Swt, “Sesunguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka”, Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas menafsirkan ayat itu dengan, Tidak ada sedikitpun keteringatan kepada Allah di dalam hati orang munafik ketika mengerjakan berbagai kewajiban. Mereka tidak beriman sedikitpun terhadap ayat-ayat Allah, tidak bertawakkal kepada Nya, tidak mendirikan shalat pada saat tidak diketahui orang lain, dan tidak membayar zakat atas hartanya. “Sesunguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka”, yakni kaget dan takut lalu mereka mendirikan kewajiban dari-Nya, mendirikan segala perintah, dan meninggalkan segala larangan-Nya. Inilah sifat mukmin sejati.

Firman Allah Ta’ala, “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah keimanan mereka,” yakni pembenaran mereka. Al Bukhari dan imam lainnya menjadikan ayat ini dan ayat lain yang sejenis sebagai dalil yang menunjukkan kepada bertambahnya keimanan dan kelebihannya di dalam hati, seperti firman Allah Ta’ala, “Adapun orang-orang yang beriman, maka bertambahlah keimanan mereka sedang mereka merasa bersuka cita.” Inilah mazhab mayoritas imam, bahkan dikatakan hal tersebut merupakan ijma.

Firman allah Ta’ala, “dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal,” yakni mereka tidak mengharapkan selain Dia, tidak menuju kecuali kepada Dia, tidak berlindung kecuali kapada sisi-Nya, tidak meminta kebutuhan kecuali kepada-Nya, dan tidak mencintai kecuali kepada-Nya. Mereka mengetahui bahwa apa yang Dia kehendaki akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi; bahwa Dialah seorang yang mengelola kerajaan, tiada sekutu bagi-Nya, tiada yang membantah ketetapan-Nya, dan Dia Maha cepat perhitungan-Nya. Oleh karena itu, Said bin Zubair mengatakan, “Tawakal kepada Allah merupakan himpunan keimanan.”

Firman Allah Ta’ala, “Orang-orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka,”. Mendirikan shalat ialah memelihara shalat dalam aspek waktu, wudhu, kesempurnaan rukunnya seperti ruku dan sujud serta pembacaan ayat al-Quran berikut tuma’ninah dalam pengerjaan rukun-rukun itu, tasyahud, dan membaca shalawat kepada Nabi Saw. Menginfakkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah meliputi pengeluaran zakat dan pemberian hak-hak hamba lainnya baik pemberian wajib maupun sunat. Pemberian ini dimaksudkan untuk memberitahukan bahwa harta ini hanyalah pinjaman dan titipan pada manusia yang nyaris terpisah.
Firman Allah Ta’ala, “Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” Amr bin Murah berkata, “Sesungguhnya al-Quran itu diturunkan dalam bahasa Arab.” Penggalan ini seperti ungkapan, “Si fulan merupakan sayyid sejati, sedangkan khalayak disebut sadat; si Fulan merupakan pedagang sejati, sedangkan khalayah disebut tujar, dan si fulan merupakan penyair sejati, sedangkan khalayak disebut syu’ara.”

Firman Allah Ta’ala, “Mereka akan memperoleh beberapa derajat pada sisi Tuhannya, ampunan, dan rezeki yang mulia,” yakni akan memperoleh sejumlah kedudukan, maqom, dan derajat di surga, “dan ampunan”, yakni Allah akan mengampuni aneka keburukan mereka dan menerima syukur mereka. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dikatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda,
‘Para penghuni tempat tertinggi benar-benar dapat dilihat oleh orang yang lebih rendah tempatnya daripada mereka seperti halnya kamu melihat bintang yang melintas di salah satu ufuk langit. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, itu adalah tempat para Nabi yang tidak dapat diperoleh oleh selain mereka’. Beliau bersabda, ‘Bukanlah demikian, namun demi Yang jiwaku dalam genggaman-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan pada rasul.’ (HR Bukhari dan Muslim).
Demikian, semoga kembali kepada kita dengan hikmah dan pelajaran.

Sumber : Kitab Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 Gema Insani Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar