Selasa, 30 Mei 2017

Belajar Leadership dari Sang Sultan

Belajar Leadership dari Sang Sultan
Sultan Muhammad Al Fatih

(Sultan Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk)
“Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah penakluknya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.” (HR Ahmad)
Sultan Muhammad Al-Fatih ialah Sultan Muhammad II bin Sultan Murad II dilahirkan di istana Sultan yang terletak di ibukota Daulah Utsmaniyah, Adarnah, pada pagi hari tanggal 30 Maret 1432 M. Kabilahnya adalah Ibih Khatun, dan pengasuhnya adalah ibu susuannya, Ummu Kaltsum Khatun. Ia benar-benar mendapatkan perhatian ayahnya, Sang Sultan, dan ibundanya, Ratu Himmah Khatun, serta kakaknya, Alauddin yang berusia 7 tahun saat Muhammad Al-Fatih dilahirkan. Ayahnya, yaitu Sultan Murad II bernama lengkap Sultan Murad bin Sultan Muhammad Jalabi, sultan ke 6 dalah Daulah Utsmaniyah. Ia dilahirkan pada tahun 806 H dan menjabat sebagai sultan setelah ayahnya wafat pada tahun 824 H. Ketika itu, usianya tidak lebih dari 18 tahun.
Pada bulan Dzulqa’adah tahun 846 H / 1443 M, putra mahkota dari Sultan Murad, yaitu Syah Zadah ‘Alauddin meninggal dunia. Ia dimakamkan di Busra. Setelah itu, posisi putra mahkota pun diserahkan kepada adiknya, Pangeran Muhammad II yang saat itu masih berusia 11 tahun. Sultan Murad II kemudian melepaskan jabatan kesultanan dan menyerahkannya kepada putranya, Muhammad II yang digelari Al Fatih. Sultan kemudian berkonsentrasi untuk beribadah di Masjid Jami’-nya di kota Magnesia. Namun jabatan itu dikembalikan kepada Sultan Murad II untuk kedua kalinya pada bulan Januari tahun 1445 M setelah terjadinya pertempuran di kota Varna.
Namun beliau kembali memutuskan untuk beri’tikaf pada bulan Desember 1445 M dan mengembalikan singgasananya kepada Sultan Muhammad II. Beliau kembali ke mesjidnya di Magnesia. Lalu ia kembali menjabat kesultanan untuk ketiga kalinya pada bulan Mei 1446 M, kemudian Muhammad Al Fatih menjadi gubernur Sharukhan di Manessa. Ia menjadi penguasa pelaksana dan panglima militer pada kawasan Asia dari kesultanan.
Pada bulan Februari tahun 1452 M, Sultan Murad II akhirnya meninggal dunia. Setelah wafatnya, Al Fatih kembali dari kota Manessa, pusat pemerintahan Sharukhan, dan dibaiat sebagai khalifah ada usia 19 tahun. Ia menjadi sultan ke tujuh dari silsilah pada sultan Dinasti Utsmani. Dari istri pertamanya, Aminah Kalbahar, Sultan dikarunia putra mahkota yakni Sultan Bayazid II.
Proyek peradaban dan pembangunan
Sultan Muhammad Al Fatih memiliki gagasan proyek peradaban dan pembangunan yang cemerlang dimana Beliau :
a.       Beliau mendirikan sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga akademik serta upaya penyebaran ilmu di seluruh penjuru negeri
b.      Beliau mendirikan perpustakaan-perpustakaan besar dan menetapkan sistem pendidikan yang menunjukkan kecerdasan ilmiah yang telah mendahului zamannya
c.       Beliau mencintai para ulama, selalu mengundang mereka hadir di istananya dan mengambil manfaat dari ilmu mereka
d.      Beliau memiliki perhatian terhadap penyair dan sastrawan serta kegiatan penerjemahan dari berbagai cabang ilmu, antara lain kedokteran, farmasi dan falak
e.      Beliau membangun berbagai rumah sakit, istana, masjid dan pasar-pasar besar serta memperhatikan pengaturan perdagangan dan produksi
f.        Beliau mengeluarkan aturan yang detil untuk manajemen administrasi, khususnya terkait dengan bidang ketentaraan dan kelautan serta sistem peradilan yang dijadikannya sebagai lembaga independen. Beliau menegaskan posisi para hakim yang begitu terhormat dan pentingnya menetapkan putusan yang adil dan setara
g.       Beliau yang pertama kali menerapkan ide adanya ujian yang mengharuskan kelulusan untuk berpindah ke tingkatan studi selanjutnya
h.      Beliau mendirikan Rumah Sakit Umum dalam pengertian dan sistem yang kita kenal dan jalankan hari ini. Dan pengobatan yang dijalankan di dalamnya adalah gratis tanpa membedakan rakyat dari kalangan manapun
i.         Beliau melaksanakan pembangunan militer dalam berbagai bentuknya. Ia mendirikan pabrik-pabrik industri militer untuk menutupi berbagai kebutuhan pasukannya, seperti : pakaian, pelana kuda, perisai, pabrik-pabrik amunisi dan senjata. Ia juga mendirikan benteng-benteng dan pertahanan di berbagai titik yang strategis secara militer
j.        Ia melakukan berbagai pengaturan yang sangat detil dan rapi. Pembagian itu terdiri dari pasukan berkuda (kavaleri), pasukan pejalan kaki (infanteri), operator meriam dan pasukan-pasukan pembantu yang bertugas untuk menyampaikan kebutuhan pasukan-pasukan yang bertempur, seperti : bahan bakar, makanan, makanan ternak. Mereka juga bertugas menyiapkan kotak-kotak perbekalan hingga medan perang.
Toleransi dan Akhlak Mulia
Toleransi dan akhlak mulia telah dicontohkan oleh Ayahanda Sultan Muhammad Al Fatih, yaitu Sultan Murad II. Saat rombongan utusan dari kota Yania datang :
"Wahai Sultan yang Agung, kami datang untuk meminta bantuan pertolongan dari Anda. Sesungguhnya para pemimpin kami telah menzhalimi kami dan memperlakukan kami seperti budak. Mereka merampas harta kami, lalu menyeret kami dalam peperangan.”
“Apa yang dapat aku lakukan untuk kalian ? Ini adalah masalah kalian dengan para pemimpin kalian? Ujar Sultan.
“Kami, wahai Sultan, bukanlah orang Muslim. Kami adalah umat Kristen. Namun kami sudah seringkali mendengarkan tentang keadilan kaum muslimin, dan bahwa mereka tidak pernah menzhalimi rakyatnya. Mereka tidak akan memaksa seorang pun untuk memeluk agama mereka, dan bahwa siapapun yang mempunyai hak akan mendapatkan haknya di hadapan mereka. Kami mendengarkan itu semua dari para peziarah dan pedagang yang mengunjungi kerajaan Anda. Karena itu kami berharap Anda dapat mengayomi kami dengan penjagaan dan kasih sayang kalian, dan agar Anda dapat memerintah negeri kami agar kalian dapat membebaskan kami dari penguasa kami yang zhalim.”
Mereka kemudian menyerahkan kunci emas kota itu. Sultan memenuhi harapan penduduk kota Yania itu. Ia lalu mengutus salah seorang panglimanya membawa sebuah pasukan mendatangi kota tersebut. Beliau akhirnya berhasil menaklukkan kota tersebut pada tahun yang sama, yaitu tahun 1431 M. Ini bukanlah kisah khayalan, meskipun ia adalah kisah yang menakjubkan. Ini adalah kisah yang benar-benar terjadi dan tercatat dalam sejarah. Saat itu kaum muslimin memang menjadi simbol keadilan dan kemoderatan.
Setelah penaklukan Konstantinopel, Sultan Muhammad Al-Fatih memperlakukan penduduk Konstantinopel dengan penuh kasih, memerintahkan pasukannya untuk memperlakukan para tawanan dengan baik dan lembut. Bahkan beliau menebus banyak tawanan itu dengan uangnya sendiri, terutama tawanan dari kalangan bangsawan Yunani dan para pemuka agama. Beliau juga bertemu dengan para Uskup untuk menenangkan rasa takut mereka dan memberikan mereka ruang untuk tetap menjalankan ideologi, ibadah dan rumah ibadah mereka. Beliau menyiapkan jamuan makan sambil berdiskusi tentang berbagai tema : agama, politik dan sosial. Sang Pemimpin Uskup itupun keluar dari kediaman Sultan dan pandangannya benar-benar berubah terhadap para Sultan Usmani dan juga tentang bangsa Turki, bahkan terhadap kaum muslimin secara umum. Ia merasa berada di hadapan seorang Sultan yang terdidik, mempunyai misi dan keyakinan agama yang kuat, rasa kemanusiaan yang tinggi dan keperwiraan yang sempurna.
Toleransi dan akhlak mulia juga tampak ketika Sultan Muhammad Al-Fatih mengirimkan sebuah pesan kepada Fransiskan dari penduduk negeri Boshwich demi menenangkan mereka bahwa ia tidak akan mengganggu siapa pun dari mereka dengan melakukan penekanan karena keyakinan agama mereka. Dalam pesan itu ia mengatakan :
“Aku Sultan Muhammad Khan Al-Fatih, mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa penduduk Bosnia Fransiskan berdasarkan pada titah kesultanan ini telah mendapatkan perlindungannya. Dan kami memerintahkan untuk :
Tidak ada seorang pun yang mengganggu mereka, juga gereja-gereja dan salib mereka! Dan bahwa mereka akan hidup dengan damai di dalam negaraku. Bahwa mereka yang telah berhijrah akan mendapatkan jaminan keamanan dan kemerdekaan, mereka akan diizinkan untuk kembali ke desa-desa mereka yang terletak dalam gugus perbatasan negara kami. Tidak ada seorang pun dari pihak negara kami; baik itu bangsawan, menteri, pemuka agama atau para pembantu kami yang akan mengganggu kehormatan dan diri mereka! Tidak ada seorang pun yang akan mengancam atau mengganggu orang-orang itu dalam diri; harta milik dan gereja mereka! Semua barang kekayaan yang mereka bawa serta bersama mereka akan mendapatkan perlindungan yang sama. Dengan pernyataan titah ini, maka saya bersumpah dengan nama Allah yang Maha Agung, yang telah menciptakan bumi dalam 6 hari, telah mengangkat langit tanpa tiang, bahwa kami tidak akan membiarkan seorang pun dari pribadi rakyat kami melanggar titah ini!”

Murid yang cerdas dari guru teladan
Sejak kecil, Sultan Muhammad Al Fatih telah menguasai bahasa Turki, Persia dan Arab; baik untuk kemampuan membaca, menulis, berbicara dan menerjemahkannya. Lalu dimasa remajanya ia mempelajari bahasa Yunani, Serbia, Italian dan Latin. Al Fatih sangat menaruh minat untuk berdiskusi dengan para ulama. Ia dikenal sering terlibat dalam berbagai diskusi dengan beberapa duta-duta besar dan perwakilan misi-misi diplomatik asing tanpa bantuan para penerjemah. Al Fatih menguasai ilmu-ilmu Al Quran, hadis Nabi, fikih dan ushul fikih serta ushuluddin. Ia juga menonjol dalam ilmu sejarah, geografi dan mantiq. Demikian pula ilmu-ilmu pasti seperti matematika dan falak, serta politik.
Ayahanda beliau telah menyiapkan guru-guru teladan baginya, yaitu ulama Maula Ahmad bin Ismail Al Kuraini dan Syekh Aaq Syamsuddin yang membina dan mendidik Pangeran Al Fatih. Beliau juga berguru kepada banyak ilmuwan, baik dari kalangan muslim maupun non muslim, antara lain Mahmud  Bek Qushab Zadah, Ibrahim Basya AlNaisyanjy dan ilmu militer dari Syihabuddin Syahin Basya, ilmu sastra dari penyair zamannya Hamiduddin bin Mulla Afdhal dan Al Wazir Ahad Basya Al Burshly, dan mempelajari sejarah, bahasa, geografi dan arkeolog dari Sinjaco Anconistato, dan Geofani Mario Angelello.
Ahli Strategi
Sultan Muhammad Al Fatih dikenal memiliki kecerdasan dalam mengatur strategi. Beliau mempelajari metode-metode perang dan mengkaji buku-buku trik-trik mekanik, hingga ia kemudian berhasil menciptakan sebuah ketapel (pelontar besar), 4 menara bergerak, dan berhasil membuat sebuah meriam bergerak pertama dalam sejarah. Beliau mengawasi sendiri pembuatan meriam-meriam raksasa yang kelak akan merobek-robek pembatas-pembatas Konstantinopel dan benteng-benteng lainnya yang sangat kuat di masa lalu.
Meskipun memiliki strategi yang luar biasa, beliau juga mengedepankan negoisasi. Seperti yang termuat di dalam surat beliau ke kaisar Konstantinopel : “Maka hendaknya kekaisaran Anda menyerahkan kota Konstantinopel kepadaku, dan saya bersumpah bahwa pasukan saya tidak akan mengganggu seorang pun (dari penduduk kota itu), baik jiwa, harta dan kehormatannya. Dan siapa yang tetap mau tinggal dan hidup di kota tersebut, maka ia akan aman dan selamat. Dan siapa yang ingin meninggalkannya ke mana saja ia mau maka ia juga akan selamat.”
Strategi cemerlang Sultan adalah saat memindahkan kapal-kapal dari tempat berlabuhnya menuju Teluk Tanduk Emas dengan cara menariknya melalui jalan darat yang terletak antara dua pelabuhan demi menjauhi Benteng Galota, karena khawatir kapal-kapal itu akan terlihat oleh pasukan sebelah barat. Jarak antara kedua pelabuhan itu sekitar tiga mil, dan bukan sebuah permukaan yang mudah dilalui, melainkan sebuah tanah perbukitan dan terjal serta tidak mulus. Sultan Muhammad Al Fatih mulai meratakan permukaan tanah dan memuluskannya dalam beberapa saat. Ia menghadirkan beberapa papan yang diolesi dengan minyak dan lemak, lalu diletakkan di atas jalan yang membentang dengan cara yang memudahkan untuk meluncurkan dan menarik kapal-kapal itu.
Bagian tersulit dari proyek itu adalah memindahkan kapal-kapal tersebut pada bagian terjal dan meninggi. Hanya saja secara umum, kapal-kapal perang Utsmani berbentuk kecil dan ringan. Kapal-kapal itu pun berjalan dari Teluk Bosporus menuju daratan, dimana ia kemudian ditarik di atas kayu-kayu yang telah diminyaki sepanjang tiga mil, hingga akhirnya tiba di titik yang aman untuk kemudian diturunkan ke Teluk Tanduk Emas. Pada malam itu, pasukan Usmani berhasil menarik lebih dari tujuh puluh kapal laut dan menurunkannya di Teluk Tanduk Emas di saat musuh mereka sedang lalai. Mereka melakukannya dengan cara yang berlum pernah dilakukan kecuali oleh Sultan Muhammad Al Fatih. Beliau sendiri yang mengawasi proses operasi yang berlangsung di malam hari itu, jauh dari pengawasan musuh-musuhnya.
Metode-metode baru yang digunakan oleh pasukan Sultan untuk bisa menembus benteng kota Konstantinopel yaitu :
1)      Mereka membuat lubang-lubang terowongan di bawah tanah dari berbagai lokasi untuk masuk ke dalam kota, hingga para penduduk kota itu mendengarkan suara pukulan yang sangat keras di dalam tanah yang semakin lama semakin mendekat ke dalam kota
2)      Pasukan Utsmani membuat benteng kayu yang besar dan tinggi yang dapat bergerak dan terdiri dari 3 tingkat. Ketinggiannya harus melebihi ketinggian pagar benteng Konstantinopel. Benteng itu ditutupi dengan perisai dan kulit yang dibasahi dengan air demi mencegah api. Benteng itu lalu dibekali pula dengan sejumlah prajurit di setiap tingkatnya. Pada tingkat atas diletakkan para pemanah yang akan memanah siapa saja yang kepalanya muncul di atas pagar benteng
3)      Salah satu strategi militer paling populer dalam sejarah dan yang masih saja terus dikaji hingga hari ini di berbagai akademi militer adalah apa yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih dalam penaklukan Konstantinopel. Kapal-kapalnya yang membawa meriam-meriam besar itu diseberangkan menuju Teluk Tanduk Emas. Ternyata mereka menemukan orang-orang Byzantium telah menutup teluk itu dengan rangkaian rantai besi besar yang membentang di antara dua tepian pantai yang menghalangi kapal-kapal yang akan menyeberang. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat Sang Panglima pemberani ini dan tidak membuatnya surut untuk terus maju. Ia telah memutuskan untuk melakukan sebuah operasi terbesar dalam sejarah untuk memindahkan armada kapal lautnya. Seluruh pasukan kemudian menarik armada kapal laut tersebut di atas balok-balok kayu yang diletakkan di atas daratan dan berputar dari arah belakang rantai-rantai tersebut. Armada itu akhirnya berhasil turun ke laut sekali lagi (setelah melintasi perbukitan) dan orang-orang Byzantium dikejutkan dengan gerakan berputar yang belum pernah dilakukan sebelumnya di sepanjang sejarah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kemiliteran, seorang panglima dengan berani memindahkan armada kapal lautnya dengan sesama beban meriam yang berat dengan melintasi puncak gunung, kemudian turun kembali ke laut untuk menghadapi musuhnya. Akibat keterkejutan itu jatuhlah Konstantinopel dalam genggaman Al-Fatih dengan kerugian yang sangat sedikit.

Sultan Muhammad Al Fatih tidak berperilaku sombong dalam berperang. Saat berhasil menaklukkan Konstantinopel, para komandan pasukan mengucapkan selamat kepadanya, ia berkata :
“Segala puji bagi Alloh. Semoga Alloh merahmati para syuhada’ dan mengaruniakan kemuliaan dan kehormatan kepada para mujahidin. Dan aku sampaikan kebanggaan dan terimakasih kepada rakyatku.”

Wasiat Terakhir Sultan Al Fatih
Berikut ini adalah wasiat Muhammad Al-Fatih kepada putranya saat ia menghadapi kematiannya; sebuah wasiat yang mengungkapkan bagaimana prinsipnya menjalani kehidupan, nilai-nilai dan keyakinan yang ia yakini dan ia harapkan dijalani oleh para khalifah sesudahnya :
“Tidak lama lagi aku akan mati. Tetapi aku tidak pernah menyesal karena telah meninggalkan calon penerus sepertimu. Jadilah orang yang adil, shaleh dan penyayang. Lindungilah seluruh rakyatmu tanpa membeda-bedakan, dan bekerjalah untuk menyebarkan agama Islam. Karena ini adalah kewajiban semua raja di atas muka bumi. Dahulukan perhatianmu kepada agama atas urusan apapun. Jangan berhenti untuk terus melakoninya. Jangan memilih orang yang tidak memperhatikan urusan agama... tidak menjauhi dosa-dosa besar dan tenggelam dalam maksiat. Jauhilah bid’ah yang merusak. Jauhi olehmu orang yang mengajakmu melakukan bid’ah itu. Perluaslah negerimu dengan berjihad dan jagalah jangan sampai harta Baitul Mal itu agar tidak dihambur-hamburkan.
Jangan mengambil harta seorang pun dari rakyatmu kecuali dengan aturan Islam. Berikan jaminan makanan bagi orang-orang lemah. Muliakanlah sebaik-baiknya orang-orang yang berhak. Ketahuilah bahwa para ulama itu seperti kekuatan yang tersebar dalam tubuh negaramu. Maka muliakan kehormatan mereka dan motivasilah mereka (dengan yang kau miliki). Jika Engkau mendengarkan seorang ulama di negeri jauh, maka undanglah ia datang dan muliakanlah ia dengan harta...
Waspada dan hati-hatilah, jangan sampai engkau terlena dengan harta dan pasukan yang banyak. Jangan sampai engkau menjauhi para ulama syariat. Jangan sampai engkau cenderung melakukan amalan yang menyelisihi syariat. Agama adalah tujuan kita, hidayah adalah jalan hidup kita, dan dengan itulah kita akan menang. Ambillah pelajaran ini dariku. Aku datang ke negeri ini seperti ini seperti seekor semut yang kecil. Lalu Allah memberiku semua nikmat yang besar ini. Karenanya ikutilah jalanku dan jejakku. Bekerjalah untuk meneguhkan agama ini dan memuliakan para pengikutnya. Jangan menggunakan uang negara untuk kemewahan dan kesia-siaan atau menggunakannya lebih dari yang seharusnya, karena itu adalah penyebab terbesar kebinasaan.”
Sultan Muhammad Al Fatih wafat pada tanggal 4 Rabi’ul Awwal 886 H / 3 Mei 1481 M di Askodra, di dalam tendanya di antara prajurit-prajuritnya.


Daftar Pustaka : Resensi dari Buku Sultan Muhammad AlFatih, karya Syeikh Ramzi Al Munyawi, Pustaka AlKautsar




Tidak ada komentar:

Posting Komentar