Selasa, 30 Mei 2017

Dakwah

Dakwah dengan Nasehat  yang menyentuh


                Agar nasehat mempunyai pengaruh yang kuat, maka sebuah nasihat harus memiliki syarat-syarat berikut ini :
a.       Tema yang tepat
Dalam memberi nasihat ataupun peringatan kepada masyarakat perlu memilih tema-tema yang sangat bermanfaat bagi agamanya maupun dunianya. Tidak hanya berkutat dalam penjelasan mengenai berbagai hukum. Namun perlu memilih tema-tema yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat dalam realita kehidupan sehari-hari.
Membatasi nasihat hanya pada khutbah jum’at dan hari raya menyebabkan masyarakat muslim menjauh dari hakikat agamanya. Terlebih jika khutbah telah berubah menjadi profesi dan bukan sebagai tugas dakwah, atau isi khutbah yang disampaikan adalah lembaran-lembaran yang ditulis berabad-abad yang silam. Maka tanpa disadari, mereka telah membangun benteng penghalang antara nilai-nilai islam dengan realita kehidupan modern.
Sebenarnya Rasulullah Saw telah mencontohkan kepada kita, beliau sering menasihati para sahabat di luar khutbah-khutbah yang formal. Nasihat-nasihat tersebut mempunyai pengaruh yang luar biasa bagi para sahabat. Ini semua dilakukan sebagai bentuk realisasi dari firman Allah Swt,
Serulah (manusia) ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (An Nahl ayat 125)
b.      Dengan bahasa yang baik
Bahasa yang baik dan jelas akan membantu seseorang untuk lebih mudah memahami dan menerima apa yang ia dengar, bahkan bahasa yang baik juga lebih mempunyai efek langsung terhadap hati. Allah berfirman,

 “Dan berilah mereka pelajaran dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (An Nisa’ ayat 63)
Dalam sebuah hadits disebutkan, “Rasulullah menasehati kami dengan nasihat yang berbekas pada jiwa.”” (Hr Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
c.       Tidak terlalu panjang
Nasihat yang terlalu panjang dapat membosankan orang yang mendengar, hingga manfaat yang diinginkan tidak bisa dicapai. Rasulullah Saw senantiasa memendekkan berbagai khutbah dan nasihatnya.
Jabar bin Samurah ra. berkata, “Aku shalat bersama Rasulullah Saw. Shalatnya tidak terlalu panjang. Begitu pula khutbahnya.” (HR Muslim)
Dalam sebuah hadits disebutkan “Bahwa Rasululllah Saw tidak memanjangkan khutbah Jum’at, akan tetapi hanya beberapa kalimat yang pendek.” (HR Abu Dawud)

d.      Memilih waktu yang tepat
Rasulullah Saw tidak terus menerus memberikan nasihat. Abi wail ra. berkata, “Ibnu Mas’ud selalu menasihati kami setiap hari Kamis. Maka seorang laki-laki berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami senang dengan nasihatmu. Kami sangat mengharapkan jika kamu menasihati kami setiap hari.” Ibnu Mas’ud menjawab, “Saya tidak memberi memberi nasihat kalian setiap hari karena saya takut menjemukan kalian. Sesungguhnya Rasulullah Saw mengatur waktu dalam memberikan nasihat kepada kami, karena beliau khawatir kami bosan.” (HR Bukhari Muslim)
Sifat pemberi nasihat yang sukses
Agar nasihat bisa diterima, maka seorang pemberi nasihat harus memiliki beberapa syarat berikut ini :
a.       Yakin dengan apa yang dikatakan
Keyakinan terhadap apa yang dinasihatkan mempunyai dampak yang besar, bagi orang yang menerima nasihat. Karena jika orang yang mendengarkan nasihat menangkap gelagat keraguan dari orang yang memberi nasihat, maka bisa dipastikan orang tersebut tidak akan percaya apalagi menaruh perhatian. Keyakinan ini akan tampak pada cara dan nada bicaranya juga pada sikap dan raut mukanya.
Jabir bin Abdullah ra. berkata, “Ketika berkhutbah dan membahas tentang hari kiamat, Rasulullah terlihat marah, suaranya meninggi, kedua matanya memerah. Seolah-olah beliau sedang memberikan komando kepada pasukan perang.”

b.      Hati yang bersih
Orang yang hatinya bersih akan berbicara dari hati, maka hati pula yang akan menerimanya. Namun, jika hati penuh debu-debu dosa maka ucapan yang keluar hanyalah sebatas dari bibir, sehingga hanya akan masuk telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri atau sebaliknya.
Diriwiyatkan bahwa suatu saat Hasan Al-Bashry mendengarkan seseorang yang berceramah di Masjid Bashrah. Namun ceramah tersebut tidak mempunyai pengaruh sama sekali terhadap Hasan Al-Bashry. Maka, setelah orang-orang yang ada di situ meninggalkan tempat, ia berkata kepada si penceramah, “Bisa jadi karena di hatimu ada penyakit. Atau, justru di hatiku.”

c.       Ucapannya sesuai dengan perbuatan
Orang-orang yang tertarik dengan ucapan seseorang, biasanya akan mengamati perilaku orang yang berbicara tersebut. Jika ucapannya sesuai dengan perbuatannya, maka akan diikuti. Namun, jika tidak, maka ucapan tersebut akan ditolak. Karena itulah, ada orang yang berkata, “Barangsiapa yang memberikan nasihat dengan ucapannya, maka ucapannya akan sirna begitu saja. Sedangkan barangsiapa yang memberikan nasihat dengan perbuatannya, maka nasihatnya akan mengenai sasaran.”
Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (AshShaaf ayat 2-3)

Referensi : Kitab Al Wafi, DR. Musthafa Dieb Al-Bugha, syarah kitab arbain imam nawawi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar