Minggu, 28 Mei 2017

HOME SWEET HOME

HOME SWEET HOME

Setiap orang merupakan bagian (anggota) dari keluarganya. Ketenangan yang hadir dalam lingkup keluarga -secara fitrah- dinanti-nantikan oleh semua orang. Setiap anggota keluarga, ayah, ibu, anak, kakek dan nenek serta semua angota keluarga merindukan suasana kehangatan dan kasih sayang dalam keluarganya. Unit terkecil dalam sebuah bangsa ini juga merupakan penentu lahirnya semangat dan karakter pribadi-pribadi yang tangguh dalam membangun bangsa.
Namun, berbagai fenomena yang terjadi saat ini telah menjauhkan harapan segenap orang mendapatkan ketenangan dalam kelurga. Tren-tren dalam kehidupan keluarga yang menghancurkan sendi-sendi dalam keluarga dapat kita lihat dalam banyak contoh.  Fenomena  yang terjadi di negara-negara maju yang sedikit banyak telah terjadi di negara berkembang, diantaranya :

1.      Fenomena terjadinya bunuh diri di kalangan remaja
Sebuah laporan yang diterbitkan majalah TIME bertemakan ” Teen Suicide” (Bunuh diri di kalangan remaja), menjelaskan bahwa kecenderungan bunuh diri di kalangan remaja yang berumur antara 10 s/d 20 tahun meningkat sangat tajam di Amerika, yaitu bertambah tiga kali lipat pertahunnya sejak 1950.
Kenapa hal ini terjadi ? Alasan terjadinya kecenderungan bunuh diri pada kaum remaja di negara-negara maju antara lain karena kaum remaja telah kehilangan satu bentuk perlindungan atau naungan sebenarnya yang mutlak keberadaannya dalam satu keluarga. Dan perkembangan jiwa remaja yang tidak sehat karena hilangnya kepedulian dan kasih sayang dalam lingkaran sebuah keluarga.
Kedua sebab tersebut sebenarnya berakar dari hancurnya keutuhan keluarga sebagai satu unit sosial. Ada dua faktor utama atas retaknya sistem sebuah keluarga di negara-negara maju (Elisabeth Diana Dewi, Profil keluarga di Barat, Jurnal ilmiah Al Insan, 2006) :
Pertama, konsentrasi yang hanya ditujukan untuk meraih kesenangan dalm kehidupan perkawinan daripada berpikir tentang tanggung jawab. Beberapa pasangan menikah apabila mereka sepakat untuk mencari kesenangan dan kenikmatan saja. Jadi apabila kehidupan perkawinan itu tidak dapat lagi memberikan apa yang mereka cari, maka mereka akan memilih jalan mereka sendiri-sendiri. Hal ini telah mengakibatkan erosi kesakralan lembaga pernikahan, sehingga perceraian sebagai konsekwensinya menjadi suatu hal yang biasa.
Kedua, putusnya sistem keluarga besar yang utuh. Hal ini dapat ditelusuri dari adanya gejala-gejala meningkatnya jumlah orang tua bahkan kakek nenek lanjut usia yang dikirim ke panti-panti jompo yang hidup terpisah dari keluarga mereka sendiri.

2.      Kekerasan Rumah Tangga
Selain merebaknya aksi bunuh diri di kalangan remaja, kekerasan rumah tangga juga merupakan praktek dan pengalaman yang terus berkembang baik berupa penganiayaan fisik, psikis maupun seks yang bertujuan menunjukkan kekuatan dan mengendalikan orang lain. Fakta kondisi rumah tangga berdasarkan hasil survey di negara-negara barat antara lain : Pertama, kabur dari rumah. Kedua, kekerasan rumah tangga sangat serius yang menjadi problem sosial yang meliputi : (1) Pembunuhan dalam rumah tangga (domestic homicides) (2) Isu-isu kesehatan (Health Issues) (3) Kekerasan pada pergaulan bebas remaja baik penyiksaan fisik maupun seksual (4) Kekerasan di dalam rumah tangga sehingga mengakibatkan efek psikologis terhadap anak (5) pemerkosaan terhadap wanita.

Home sweet home
Kita harus flasback kembali fungsi keluarga itu sebetulnya. Keluarga dalam pandangan Islam bukanlah sekadar tempat berkumpulnya orang-orang yang terikat karena perkawinan maupun keturunan, akan tetapi mempunyai fungsi yang demikian luas. Rasulullah Saw sendiri telah menyatakan dalam sebuah haditsnya : ”Jadikanlah rumahmu tempat tinggal yang menyenangkan, dan janganlah jadikan seperti makam, tempat kembalinya orang-orang yang sudah meninggal dunia.
Lebih lanjut, DR. KH. Didin Hafiduddin menyimpulkan dari tulisan Jallaluddin Rahmat (1986), mengenai fungsi keluarga. Keluarga mempunyai beberapa fungsi yang luas yang berkaitan satu dengan yang lainnya, yaitu :
A.          fungsi afektif dan reproduksi, keluarga memberikan kasih sayang dan melahirkan keturunan (QS. Al furqon : 74),
B.           fungsi religius, keluarga memberikan pengalaman dan pendidikan keagamaan kepada anggota-anggotanya. Kebiasaan-kebiasaan perilaku agama (seperti sholat, shaum, kedisiplinan, mengenal Al Quran) hendaknya ditanamkan sedini mungkin dalam keluarga,
C.           fungsi rekreatif, keluarga merupakan pusat rekreasi bagi angggotanya. Karenanya, suasana betah di rumah (in home) harus senantiasa diusahakan,
D.          fungsi protektif, keluarga melindungi anggota-anggotanya dari rasa takut, khawatir, ancaman fisik, ekonomis, dan psikosional. Artinya, keluarga merupakan tempat pemecahan masalah-masalah tersebut,
E.           fungsi edukatif, keluarga  memberikan nilai-nilai pendidikan kepada anggotanya, dan terutama anak-anak. Orangtua biasanya merupakan figur sentral dalam proses pendidikan dalam keluarga,
F.            fungsi sosial, keluarga merupakan latihan prsoses sosialisasi nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat kepada para anggotanya, sekaligus keluarga juga memberikan prestise dan status kepada angota-anggotanya, dan fungsi lainnya.
      Potret keluarga teladan menjadi salah satu sumber inspirasi bagi kita. Kita dapat melihat potret keluarga teladan yang dikisahkan dalam Al Qur an diantaranya : Keluarga Imran, Keluarga Nabi Ibrahim as, Keluarga Luqmanul Hakim, Keluarga Nabi Ya’qub as, Keluarga Nabi Daud as, dan Kelurga Nabi Syu’aib as bersama kedua putrinya.
      Dengan mengerti kedudukan keluarga, permasalahan/fenomena yang terjadi mengenai persoalan keluarga, fungsi dan peran keluarga serta mengambil hikmah dari contoh  keluarga teladan dalam AlQur an, kita berharap kehangatan dan ketenangan dalam keluarga (sakinah wa rahmah) dapat hadir di tengah-tengah keluarga kita dimana kita menjadi bagian di dalamnya, baik sebagai anak, ayah ataupun ibu.
Wallahu a’lam bi shshawwab

Daftar Pustaka :
1.      Elisabeth Diana Dewi, Profil keluarga di Barat, Jurnal ilmiah Al Insan (2006), GIP
2.      DR.KH.Didin Hafidhuddin, (dosen IPB Bogor dan anggota Dewan Syariah Nasional), Keunggulan Keluarga Islami Jurnal ilmiah Al Insan (2006), GIP
3.      Yendri Junaidi LC, Jurnal ilmiah Al Insan (2006), GIP


Tidak ada komentar:

Posting Komentar