Selasa, 30 Mei 2017

CIRI-CIRI IBADURRAHMAN

CIRI-CIRI IBADURRAHMAN

Di dalam Al-Quran Surat Al Furqan ayat 63 sampai dengan ayat 76, menjelaskan mengenai sifat-sifat 'Ibaadurrahman (para hamba ar-Rahman), karakteristik, ciri-ciri mereka serta pahala besar yang Allah siapkan buat mereka di sisi-Nya agar orang yang ingin menjadi salah satu dari 'Ibaadurrahman dapat memilikinya, meraih kehormatan beribadah dan menisbatkan diri kepada-Nya serta menggapai persaksian. Dalam ayat-ayat tersebut, disebutkan sifat-sifat 'Ibaadurrahman sebagai berikut :
(63) Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
(64) Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.
(65) Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.”
(66) Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.
(67) Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
(68) Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya).
(69) (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,
(70) kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(71) Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
(72) Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
(73) Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.
(74) Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
(75) Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.
(76) mereka kekal di dalamnya. Syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.
Penjelasan :
Diantara ciri – ciri ‘Ibaadurrahman antara lain sebagai berikut :
1. Tawadhu' (Rendah Hati) dan taat kepada Allah Swt
Yaitu sebagaimana firman-Nya, artinya, “(ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati”. [63]
Inilah sifat pertama ‘Ibaadurrahman, yaitu mereka berjalan di atas bumi dengan sangat enteng dan ringan, tidak dibuat-buat, tidak sombong atau pun melengos. Mereka tidak berjalan dengan sangat cepat yang menunjuk-kan sikap suka mengentengkan dan kasar, juga tidak berjalan dengan sangat pelan yang menunjukkan sifat malas dan kumal. Tetapi mereka berjalan dengan ringan, penuh dengan semangat, tekad, kelelakian dan jiwa muda. Mereka mengetahui betul wasiat Luqman kepada anaknya sebagaimana diinformasikan Rabbnya, artinya, “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan.” (QS.Luqman:19). Maksudnya adalah sedang-sedang saja dalam semua urusan, tidak berlebihan atau keterlaluan sekali.
‘Ibaadurrahman berjalan di pelosok bumi untuk mencari rizki dan tuntutan hidup dengan penuh kelembutan dalam batasan-batasan yang diperkenankan Allah subhanahu wata’ala kepada mereka, tidak rakus, tamak, menyia-nyiakan kewajiban, melakukan hal-hal yang diharamkan atau pun berbuat mubadzir. Tidak muncul dari mereka sikap keras, melecehkan, sombong, berbangga-bangga dan berbesar diri. Mereka tidak berbuat kerusakan di muka bumi, mencari ketinggian, lebih mendahulukan keuntungan duniawi yang fana, tidak berusaha semata hanya untuk mengumpulkan harta dan bersenang-senang dengan kenikmatan kehidupan duniawi.
Mereka juga rendah hati terhadap Allah subhanahu wata’ala, lembut dan ringan, tidak angkuh dan sombong. Mereka mendengar firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”
2. Lemah Lembut, hilmu (sabar / tenang), dan selalu berkata baik
Yaitu sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” [63]
Ini merupakan sifat ke dua ‘Ibaadurrahman, yaitu bila orang-orang jahil mengucapkan ucapan yang buruk, mereka tidak membalas dengan ucapan yang sama tetapi mema'afkan, tidak berkata kecuali yang baik, mereka tidak terpancing oleh kejahilan orang tersebut, tetapi menahan lisan dan emosi mereka.
Mereka memangkas jalan fitnah dan keburukan yang ingin dilakukan orang-orang jahil itu, memadamkan 'kobaran' kejahatan pertama yang andaikata dibalas dengan tindakan yang sama, pastilah apinya akan semakin menyala sehingga bisa menimbulkan perang besar dan kejahatan bergentayangan. Menurut mereka, kepahlawanan bukanlah ditampakkan dengan postur badan yang kuat, berotot, dan mampu menang dalam pertarungan, tetapi kepahlawanan yang hakiki adalah menahan diri ketika marah.
Yang menjadi panutan mereka dalam hal ini adalah Nabi mereka, Muhammad shallallahu ‘alihi wasallam yang merupakan manusia paling lemah lembut. Salah satu contohnya, “Ketika ada seorang Arab Badui yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallamdan berkata kasar, lalu kaum Muslimin marah dan ingin memberinya pelajaran, namun hal itu dicegah oleh beliau. Beliau membalas sikap kasar itu dengan kasih sayang dan lemah lembut.” (Hadits Muttafaqun 'alaih)

3. Melakukan Qiyamullail (tahajjud pada malam hari)
Yaitu sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” [64]
Allah subhanahu wata’ala menyebut para hamba-Nya sebagai orang yang mencintai malam hari dengan melakukan ibadah. Mereka bangun saat orang-orang sedang terlelap tidur, waspada saat orang-orang lengah, sibuk menyong-song Rabb mereka, menggantungkan jiwa dan anggota badan mereka kepada-Nya. Saat orang-orang terlena dan merasa mantap dengan kehidupan duniawi, mereka justeru menginginkan ‘Arsy ar-Rahman sebab mereka mengetahui bahwa ibadah di kegelapan malam dapat menjauhkan mereka dari sifat riya' dan minta dipuji. Ibadah di malam hari juga membangkitkan kebahagiaan di hati dan ketenangan bagi jiwa serta penerangan bagi penglihatan mereka.
Saat berdiri di hadapan Allah subhanahu wata’ala dan mengarahkan wajah mereka kepada-Nya, mereka merasakan kelezatan dan kebahagiaan yang tiada tara serta kenikmatan yang tak terkira. Tiada lagi rasa manis setelah manisnya beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, bermesra, dan melakukan kontak dengan-Nya. Melakukan Qiyamullail merupakan sifat asli ‘Ibaadurrahman. Allah subhanahu wata’ala menyebut mereka dengan sifat itu dalam banyak ayat dan menganjurkan para Nabi-Nya untuk melakukan hal itu.
Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, “Hendak-lah kamu melakukan Qiyamullail sebab ia adalah tradisi orang-orang shalih sebelum kamu, bentuk pendekatan kepada Rabb kamu, penghenti dosa, penebus dosa-dosa kecil dan pengusir penyakit dari badan.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi yang dinilai Hasan oleh Syaikh al-Albani)
4. Takut Api Neraka / takut kepada adzab Allah Swt
Sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasan yang kekal.”[65] Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” [66]
Sekalipun ‘Ibaadurrahman sangat ta'at dan hati mereka dipenuhi dengan ketakwaan namun mereka selalu merasa amalan dan ibadah mereka masih kurang. Mereka tidak melihat hal itu sebagai jaminan dan pemberi rasa aman dari api neraka bila saja tidak mendapatkan curahan karunia dan rahmat-Nya yang dengannya mereka terhindar dari adzab Jahannam. Karena itu, mereka selalu terlihat takut, cemas dan khawatir dengan adzab Jahannam.
Mereka selalu memohon kepada Allah agar Dia menghindarkan mereka dari adzab Jahannam seluruhnya, baik adzab yang dirasakan penghuni abadinya atau pun penghuni semen-taranya. Inilah sifat setiap Mukmin yang bersungguh-sungguh dalam berbuat ta'at dan takut akan adzab Allah subhanahu wata’ala sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya yang lain, “Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya. Karena sesungguhnya azab Rabb mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). (QS. Al-Ma'arij: 27, 28)
Do’a yang dipanjatkan umat muslim tatkala selesai tahiyyatul akhir menjelang salam :
Allohumma innni a’udzubika min adzabi jahannama wa min adzabil qobri wa min fitnatil mahya wa mamat wa min syarri fitnatil masihi ddajjal.
5. Ekonomis (adil / seimbang) Dalam Pengeluaran dan Tidak Boros
Sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” [67]
‘Ibaadurrahman bukanlah orang-orang yang berbuat mubadzir, membelanjakan harta melewati batas keperluan sebab mereka mengetahui benar bahwa boros akan merusak jiwa dan harta. Orang-orang yang berbuat mubadzir adalah saudara-saudara syetan. Syetan selalu menyuruh berbuat keji dan munkar. Mereka juga mengetahui bahwa mereka bertang-gung jawab di hadapan Allah subhanahu wata’ala terhadap harta mereka; dari mana mereka peroleh dan kepada siapa mereka infakkan.
Mereka juga tidak pernah kikir terhadap diri sendiri dan keluarga mereka, dalam arti teledor memberikan hak mereka dan tidak berinfaq untuk hal yang telah diwajibkan Allah subhanahu wata’ala, sebab mereka mengetahui bahwa Allah subhanahu wata’ala telah mencela kekikiran dan sifat bakhil. Jiwa nan suci menilai buruk sifat bakhil dan menghindari pelakunya.
Metode berinfaq ‘Ibaadurrahman adalah moderat dan menengah, antara bakhil dan boros. Bersikap tawazun pertengahan anatara keduanya. Mereka berada di puncak pertengahan antara boros dan bakhil. Mereka meletakkan ayat Allah subhanahu wata’ala berikut di hadapan mata mereka, artinya, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra':29)
Yakni janganlah kamu bakhil, sehingga tidak mau memberi sesuatu kepada siapa pun dan janganlah pula boros dalam mengeluarkan harta, sehingga memberi di atas kemampuanmu dan mengeluarkannya melebihi pendapatanmu.
6. Tidak melakukan perbuatan syirik 
Sebagaimana Firman Alloh Swt : Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)” [68]
Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa : 48)
7. Tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah Swt
Rasulullah bersabda dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim :
“Tujuh perkara yang menghancurkan /merusak kalian, yakni syirik kepada Allah, mempraktekkan sihir, membunuh, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari barisan perang, dan menuduh orang baik berzina.
8. Menghindari zina
Allah Swt berfirman :
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Al Israa’: 32)
Maka apabila mereka berbuat dosa – dosa kesalahan demikian, mereka segera bertaubat dari segala kesalahan yang dilakukannya. Kelanjutan Surat Alfurqan ayat 70 dan 71 :
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [70]
Tentang ayat-ayat yang mendukung ta’mimum tobat (Nazhoir katsiran : ayat yang maknanya setara); QS At Taubah ayat 104; QS Az Zumar ayat 53.
Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” [71]
Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman :
“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?” (At Taubah : 104)
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa[1314] semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az zumar : 53 )
9. Menhindari dusta, perkataan yang tidak benar, dan tidak bersaksi palsu serta menghindar dari tempat-tempat yang tidak berguna
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Kata Az zur bermakna menyifati sesuatu (perkataan) yang tidak sesuai dengan kenyataannya.
Sedangkan kata laghwu bermakna setiap perkataan/ tindakan yang batil, tidak artinya dan dasarnya.
Dalam ayat lain Alllah Swt berfirman :
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil." (QS al Qashash : 55).
Dalam salah satu haditnya, Rasulullah Saw bersabda :
Abu Bakrah (Nufai’) bin Alharits r.a berkata : Bersabda Rasulullah Saw : Sukakah saya beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang besar, yaitu tiga. Sahabat berkata : Baiklah ya Rasulullah, bersabda Nabi : Menyekutukan Alah, dan durhaka kepada kedua orang tua. Tadinya Nabi menyandar, kemudian tegak duduk sambil bersabda : Camkanlah dan saksi palsu dan perkataan bohong. Maka Nabi selalu mengulangi : Dan persaksian palsu, sehingga kami berkata : Semoga Nabi diam. (Bukhori Muslim).
Pada masa khalifah Umar bin Khattab ra, orang yang bersaksi palsu dan dinyatakan oleh pengadilan mendapat hukuman empat puluh kali cambuk, dan diberi tanda hitam di wajahnya, digunduli kepalanya dan diarak keliling pasar guna hukuman bagi orang yang bersaksi palsu.
10. Menerima setiap peringatan dengan benar-benar terbuka dan dengan penuh semangat
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.” [73]
Jika diingatkan kepada ayat – ayat Allah Swt, maka bersungguh-sungguh memperhatikannya, beresgera mendengarkannya, dengan mata terbuka, dan hati yang terbuka dengan rela dan siap menerima kebenaran, tidak seperti orang kafir dan munafik dan para pelaku maksiat dari kalangan umat muslim sendiri.
Allah Swt berfirman :
“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit[666], maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At Taubah : 124-125)
Kata rijsun à makanan yang berdampak pada kerusakan jiwa
11. Merendahkan diri dan bersungguh-sungguh kepada Allah Swt dalam meminta
Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”[74]
At tadharru’ yakni berdoa dengan penuh pengharapan. Berdoa untuk keturunan kita sebagaimana dipesankan oleh Rasulullah Saw bahwa ada tiga perkara yang tidak putus walaupun kita telah meninggal dunia, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang selalu mendoakan orangtuanya. Meminta kepemimpinan dalam beragama. Balasan takwa dan tawakkal kepada Allah Swt : QS At Thalaq ayat 3.
Demikianlah penjelasan sifat-sifat ‘ibaadurrahman sebagaimana termaktub dalam Al Quran Surah Al Furqan ayat 63 sampai dengan ayat 76. Semoga bermanfaat.
Diolah dari berbagai sumber:
·         Buletin berjudul, Min Shifaat 'Ibaadirrahman Fi Al-Qur'an, disusun oleh Bagian Ilmiah penerbit Darul Wathan. (Hafid M. Chofie) dalam Artikel Buletin An-Nur : alsofwah.or.id
·         Ustadz Prof. DR. Wahbah al Zuhaily, At Tafsir Al munir fi al aqidah wa as syariah wa al manhaj
·         Kajian rutin Tafsir Taflily Asrama Lembaga Pendidikan Insani Yogyakarta oleh Ustadz Ahmad Arif Rif’an



Tidak ada komentar:

Posting Komentar